
Halo Sahabat Cita dan Nesia 👋🏽
Dari timur Nusantara, di antara laut biru Maluku dan gugusan pulau rempah, lahir seorang pemimpin besar yang dikenal karena keberanian, strategi, dan semangat persatuan.
Namanya Sultan Nuku dari Tidore—
seorang tokoh maritim yang memimpin perlawanan besar terhadap dominasi kolonial pada akhir abad ke-18. Ia dikenang sebagai salah satu pahlawan besar Indonesia dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1995.
Laut sebagai Ruang Persatuan dan Perlawanan
Sultan Nuku (sering disebut juga Nuku Muhammad Amiruddin) berasal dari Kesultanan Tidore di Maluku Utara. Setelah ayahnya, Sultan Jamaluddin, diasingkan oleh VOC Belanda, Nuku bangkit menantang campur tangan kolonial yang melemahkan kedaulatan kerajaan lokal.
Namun kekuatan Nuku tidak hanya terletak pada keberanian pribadi.
Ia memahami satu hal penting:
siapa menguasai laut, ia menghubungkan kekuatan pulau-pulau.
Melalui jalur laut, ia membangun jaringan persekutuan dengan berbagai kelompok di Maluku, Halmahera, Seram, Papua, hingga wilayah kepulauan lain.
Armada Kora-Kora dan Strategi Laut
Dalam perjuangannya, Nuku dikenal membangun armada kora-kora—kapal perang tradisional Nusantara yang lincah dan efektif di perairan kepulauan.
Dengan kekuatan maritim ini, ia:
menghubungkan sekutu antar pulau
melawan monopoli VOC
merebut kembali wilayah strategis
menghidupkan kembali kedaulatan Tidore
Pada tahun 1797, ia berhasil merebut kembali Tidore dan kemudian naik takhta sebagai Sultan. Pada 1801, bersama sekutunya, kekuatan Belanda di Ternate berhasil dikalahkan.
Identitas Maritim: Persatuan dalam Gugusan Pulau
Kisah Sultan Nuku sangat relevan bagi Indonesia modern.
Ia menunjukkan bahwa negara kepulauan tidak harus dipandang terpisah-pisah.
Justru laut dapat menjadi jembatan persatuan, bukan pemisah.
Identitas Maritim: Persatuan dalam Gugusan Pulau
Kisah Sultan Nuku sangat relevan bagi Indonesia modern.
Ia menunjukkan bahwa negara kepulauan tidak harus dipandang terpisah-pisah.
Justru laut dapat menjadi jembatan persatuan, bukan pemisah.
Dalam perspektif sosiokultural
1. Laut sebagai konektivitas – menghubungkan komunitas berbeda.
2.Aliansi lintas budaya – menyatukan beragam kelompok untuk tujuan bersama
3.Kepemimpinan adaptif – memahami geografi kepulauan sebagai kekuatan strategis
Nuku memahami bahwa identitas maritim dibangun melalui relasi antar pulau dan rasa tujuan bersama.
Refleksi untuk KawanCita
Di masa kini, tantangan kita mungkin berbeda.
Bukan lagi kapal kolonial, tetapi keterpisahan, ego sektoral, dan lemahnya kolaborasi.
Sultan Nuku mengajarkan:
Kadang kekuatan terbesar bukan berada di satu pusat,
tetapi dalam kemampuan menyatukan banyak pulau, banyak suara, dan banyak harapan.
Citanesia Insight
Sultan Nuku adalah simbol bahwa laut Nusantara dapat menjadi ruang persatuan, strategi, dan martabat bangsa.
Ia membuktikan bahwa dari timur Indonesia, lahir visi besar tentang kedaulatan maritim dan solidaritas kepulauan.




